Thursday, 27 November 2014

PESISIR

PESISIR

Gebyar fajar di pesisir selatan
Dermaga tua jadi tumpuan
Gemanya ku dengar
Byurrr…ombak nakal menampar karang
Biduk peot nelayan ikut di guncang
Bergoyang senggol di tambatan

Desis angin gusar
Riuh lantunkan irama alam
Wush..wush..bunyinya berssahutan

Kabut pekat modarrr..
Matahari merambah mercusuar
Berpijar penuh pendar
Kilat pasir tepian
Bunarr ..

Camar-camar melesat tajam
Berrr …terbang menyambar pakan
Anak-anak ikan kualahan
Berlarian
Akar bakau jadi tameng persembunyian
Mereka jadi buronan..

Harmonis
Estetis
Ellegant..
Penuh keselarasan
Keasliannya tak ku temui di megapolitan

Hening, dan tak banyak polutan

Wednesday, 26 November 2014

DENTANG LONCENG SEPULUH

DENTANG LONCENG SEPULUH
Dalam,ku terfokus padamu
Berkaca-kaca mataku
Hampir pecah,meluruh..
Kau tampak seperti bayi yang lugu..
Lelap,di balut dentang lonceng sepuluh
Menggerutu…memperolok lelahmu..
Bu..

Hangat aku membelaimu
Dengan jemarih lusuhku
Merapuh batinku,
Membiru…haru…
Peluh-peluh kerja kerasmu
Dedikasimu..
Menghidupiku,
Bu…

Ku golekkan tubuh di sampingmu
Merolling setiap waktu..
Yang terlewat bersamamu,
Untuk desah nafasku
Demi debit darahku
Adrenalinmu berpacu..
Menjantan
Melawan mereka yang jantan..
Bu...

Kalut ku merengkuhmu,
Dalam kesepian malammu
Yang kau cintai telah jauh..
Cukup aku..
Mendekapmu teduh,
Seteduh kala aku berteduh
Di bawa sayap-sayap jibrilmu,
Bu..

Bu..
Bocah kecil motivasimu..
Runtut dalam langkahmu…



Tuesday, 25 November 2014

MENCAIR

MENCAIR

ajari aku mencair,
agar tak ku rengkuh sendiri kebekuanku
yang dingin,
mengeraskan caraku berpikir

ajari aku mencair
biar semua yang mengendap mengalir
hinggah keruh terperanjat dan menyingkir dari bayang-bayang jernih
aku ingin melihat diriku bahagia
seperti aku melihat dirimu bahagia

ajari aku mencair
biar semua yang beku memuai
lewat desir angin panas yang lalu lalang
aku ingin sedikit hangat
sebelum kemudian mendidih
lalu menguap
dan jatuh meluruh sebagai embun

ajari aku mencair
sebelum aku terkejut
karena tiba-tiba aku meleleh




Top of Form


Monday, 24 November 2014

OELIL

OELIL
Dalam satu ruang hampa
Ku terjaga tiba-tiba
Kosong.. sarat akan gaung dan gema
Suaraku..
Cuma suara sumbangku yang menggema
Dalam ..berulang kali,
Hngga beresonansi
Lirih..sedih..ku tangisi,
Dimana imajiku berhenti?
Tempat apa ini?

Ku telusuri,
Tiap setapak yang ku pilih
Ku arungi
Namun tetap membawaku kembali
Tetap di sini
Di satu negri yang tak ku kenali
Sepi.. sunyi..ku bersedih,
Kemana lagi inspirasiku berlari?
Sukmaku terperangkap di sini

Dan ku terdiam merenungi keadaan
Ku replay vity kenangan
Berbagai sin kebersamaan
Tawa,tangis dan petualangan riskan
Aku dan kau di masa silam
Menyadarkan
Bahwa aku tengah kesepian

Ku nanti kau datang menerjang
Gerbong ruang yang panjang
Detik-detik rawan yang membentang
Dan hari-hari sibuk yang halang merintang
Untuk sekedar selamatkan
Pulau rinduku yang hampir tenggelam

Karena banjir ketidakpastian yang menerjang

Sunday, 23 November 2014

KERTAS-KERTAS BISU

KERTAS-KERTAS BISU

Lewat  kertas-kertas bisu
Ku bagi semua keluh kesahku
Rasa kecewaku
Pesakitanku..
Karenamu

Cukup kertas-kertas bisu
Memahami nuraniku
Batinku..
Bagaimana aku di sakiti olehmu
Namun termaafkan selalu

Lewat kertas-kertas bisu
Pelampiasanku..
Bukan kokain
Bukan pula morphin
Yang mencanduku..

Cukup kertas-kertas bisu
Teman berbagiku
Yang menyimpan rahasiaku
Tentangmu…
Dia tak kan pernah berbagi
Kecuali denganku..

Cukup kertas-kertas bisu
Benteng pertahananku
Tak jenuh mengikis keputusasaanku
Oleh sifatmu….

Lewat kertas-kertas bisu
Pelarianku
Bukan bir..
Bukan pula brandy…
Yang memabukkanku

Cukup kertas-kertas bisu
Yang dungu
Yang tak kan menjatuhkanmu
Karena cukup aku dan kertas-kertas bisu itu
Yang tau

Bagaimana kau membunuhku…

BIARKAN AKU MERAJUK

BIARKAN AKU MERAJUK

Biarkan tumpah ruah
Rajukanku..
Agar tak tertahan di kantung mata
Menggunda,
Berkaca-kaca,
Namun tak juga pecah

Biarkan tumpah ruah
Rajukanku…
Agar tak sesak di dada
Meluap-luap,
Mendidih…
Dibawa darah ke kepala
Penat….

Biarkan tumpah ruah
Rajukanku…
Agar tak mengendap
Menumpuk hingga padat,
Merusak hati kecil

Aku ingin merajuk,
Di kakimu…
Meski tak basah…

Setetes saja……

DIMANA WAJAH TUHAN?

DIMANA WAJAH TUHAN?

Ku mencari raut wajahmu
Di wajah awan-awan yang merah
Memalu saat senja

Ku meraba mimik mukamu
Di wajah awan-awan yang hitam
Terpejam saat malam

Ku membelai urat wajahmu
Diwajah awan-awan legundi
Tersenyum saat fajar

Ku tak dapatinya menyeruak,
Seperti jejak-jejak…

Kau tak berbekas
Seperti air-air langit yang meresap saat kemarau

Kau tak nyata
Namun tak ambigu,
Kau abstrak
Namun kau memang ada,
Di setiap hati kecil
Di setiap nalar

Di setiap langkah-langkahku yang nakal
Kau kenal dalam ingkar
Begitupun dalam sujudku yang basah
Kau ku sembah dalam pengabdian…
Tuhan…..