Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Friday, 24 April 2015

KOLEKSI CERPEN 3


PANGGIL AKU MAMA
KUPU-KUPU KERTAS
By: Ebid GAD
Setiap waktu…
Engkau tersenyum
Sudut matamu,
Memancarkan rasa…
Keresahan yang terbenam,
Kerinduan yang tertahan
Luka dalam yang tersembunyi
Jauh di lubuk hati…
Kata-katamu…
Riuh mengalir bagai gerimis…
Kupu-kupu kertas..
Yang terbang kian kemari..
Aneka rupa dan warna
Di bias lampu temaram…
            Ku lihat dia di tepi kolam. Jari jemarinya asyik berdansa di atas dawai gitar yang di eja setiap kuncinya. Aku hafal betul suasana hatinya setiap kali dia memilih untuk melantunkan senandung Ebiet itu. Dan aku tau tiada yang lain selain aku yang bisa membuatnya sesedih ini.
            Terkadang aku memang merasa sangat bersalah setiap kali membuatnya seperti ini. Namun entah mengapa, rasa benciku tak pernah teredam setiap kali aku melihat anak itu. Wajahnya selalu mengingatkanku akan insiden 21 tahun yang lalu. Meskipun bukan dia penyebabnya, namun dialah akibat yang menyeruak menjadi momok dalam rumah tanggaku.
            Hari ini aku memang benar-benar mempermalukannya di kantor. Dia yang tadinya seorang direktur creative ku turunkan begitu saja menjadi seorang office boy. Aku memang sengaja karena aku tak rela anak itu mencampuri kerajaan bisnisku. Meskipun enam bulan terakhir, selama aku terpuruk di ranjang rumah sakit, dia telah memberikan kontribusi yang besar untuk perusahaanku lewat tender-tender besar yang berhasil ia menangkan. Aku tak peduli, akulah pimpinannya, tentu secara mutlak hak veto berpihak di kedua tanganku.
“Bu!”sapanya padaku membuyarkan renunganku, aku sedikit malu karena tertangkap basah sedang mengamatinya.”Baru pulang, Bu?perlu saya buatkan minuman hangat?”tawarnya padaku
“Nggak usah!”jawabku ketus
“Ya sudah, saya permisi dulu, sugeng dalu..”ku lihat sikapnya masih sangat hangat, tak terlintas sedikitpun raut marah di wajahnya.
**
“Mang Kas….berangkat ya..”teriaknya ku dengar pagi-pagi, ku toleh dari jendela kamarku, benar memang dia dengan seragam OB dan sepeda jengkinya. Sepagi ini dia sudah berangkat, “Lho Den, kok nggak bawa mobil?mobilnya udah Mang siapin.”
“Mang..mang…nggak lihat seragam baru saya…masak saya ke kantor bawa mobil…kan nggak lucu, Mang?”guraunya
“Hahahah…iya juga ya, Den..?”
“Lho? pagi-pagi kok udah berangkat?”sapa putra sulungku, yang baru saja pulang jogging.”Nggak bareng mas aja, hmm?”
“Nggak lah, Mas?Aji naik sepeda aja, sekalian olahraga, duluan ya, Mas.”
“Dia selalu berangkat sepagi ini?”tanyaku pada putra sulungku
“Yah.. anak yang rajin, punya integritas dan passion yang tinggi, tapi mama justru terlalu mementingkan ego dan terkesan subyektif.”tutur putraku dengan nada sedikit marah. Aku tau betul dia sangat berpihak pada adiknya itu.
##
            Akupun sampai di kantor. Ku lihat dia sedang membersihkan kaca jendela kantor.
“Lho? pak Aji? turun jadi OB sekarang?” tanya seorang dewan direksi
dia hanya tersenyum.”Pak Aji… Pak Aji…sarjana luar negri kok mau-maunya di taruh di bagian OB,  kan kinerja bapak saya lihat juga sangat baik” ku dengarkan saja pembicaraan mereka.
“Nggakpapa Pak, saya kemaren kan cuma menggantikan untuk sementara saja, lagipula sesuatu yang di raih dari nol itukan lebih terasa perjuangannya daripada yang di raih secara instant,”
“Saya salut sama pak Aji, ya sudah, saya ke dalam dulu ya!”
“Ya, mari..” sebijaksana itukah dia? tidak sedikitpun ku lihat urat malu yang menggeliat di wajahnya, dia memang sangat tenang. Akupun bergerak mendekatinya. Tapi aku kembali berpikir, untuk apa aku mendekatinya.
**
            Jam makan siangpun tiba. Ku lihat dia masih asyik bekerja membantu karyawan lain menyelesaikan tugasnya.
“Aji itu pimpinan yang baik, dia tidak hanya sekedar memimpin, memerintah lalu menunggu laporan di sodorkan untuk diteliti, tapi selama dia bekerja dulu, dia selalu turun membimbing timnya menyelesaikan tugas, dia pekerja keras, telaten dan tangguh.”tutur putraku yang bicara di belakangku”itu sebabnya dia sangat dihormati oleh karyawan disini?bukankah dulu ayah juga seperti itu?”
“Jangan pernah samakan dia dengan ayah kamu, dia bukan siapa-siapa ayah kamu, dia cuma anak haram, anak pembunuh ayah kamu,”tegasku yang tak suka dia menyamakan anak itu dengan almarhum suamiku.
“Mama benar, dia mungkin anak haram bagi mama, tapi dia justru lahir dari rahim mama, dia membawa darah saya begitupun juga dia membawa darah ayah.”akupun menamparnya,entah kenapa akhir-akhir ini dia mulai sangat berani menentangku dan bicara tidak hormat kepadaku. Semuapun memperhatikan kami, termasuk dia.
“Kamu sudah bikin mama sakit hati.”
“Sakit? masih lebih sakit hati saya setiap kali melihat mama menyakiti Aji, mama bukan ibu yang baik, suatu hari nanti mama akan menyesal sudah memperlakukan Aji seperti ini.”diapun meninggalkanku begitu saja.
“Sudah-sudah, ayo kita kerja lagi.”dia mencoba mendisiplinkan karyawan yang sempat gaduh melihat pertengkaranku dengan putraku tadi.”Ibu, tenang ya?”diapun mendekatiku dan coba menenangkanku
“Seharusnya saya memang melenyapkan kamu dari dulu, kamu dan bapak kamu sudah menghancurkan rumah tangga saya.”ku lihat matanya mulai berkaca-kaca. Biarkan, aku memang sengaja.
**
            Sepulang kerja ku habiskan waktuku di luar hingga larut malam. Rasanya aku tak ingin pulang ke rumah karena suasana hatiku sangat buruk, namun ku coba menguatkan diri. Akupun pulang sangat larut. Tak ku lihat dia duduk di depan pintu rumah seperti  biasa. Sejak kecil dia selalu menunggu dan menyambutku datang selarut apapun itu. Entah kenapa malam ini aku tak melihatnya di sana.
Rumah terasa sangat sepi. Sepertinya semua sudah pergi tidur. Aku memang tak pernah pulang selarut ini. Ku lihat pintu kamar Aji masih terbuka, akupun ke sana, entah kenapa aku sangat tertarik untuk kesana. Ku tengok dia. Rupanya dia sudah nyenyak. Baru sekali ini aku masuk ke kamarnya. Ku lihat lampu meja kerjanya masih menyala dan ada sebuah buku harian di sana. Akupun mengambilnya dan membawanya keluar dengan lancang.
Ku bawa buku itu ke kamarku. Entah kenapa aku sangat penasaran dengan apa yang di tulisnya di dalam buku itu. Ku buka perlahan, ku amati, sepertinya buku ini mulai di tulis sejak dia masih bocah. Akupun mulai membaca.
“Hari ini,aku dapat juara lagi,tapi sayang ibu nggak lihat aku waktu tadi aku lomba. Mang Kas bilang ibu memang nggak mau lihat, tapi aku percaya sebenarnya ibu bukan nggak mau lihat aku, tapi ibu memang sedang sibuk kerja.”
(*)
            “Aku nggak percaya waktu temen-temen ibu bilang kalau ibu nggak sayang sama aku. Kalau ibu nggak sayang sama aku, kenapa ibu mau mengandungku selama 9 bulan?itukan berarti ibu sayang sama aku”
(*)
“Ibu memang sering bentak-bentak aku, ngomong kasar ke aku, dan nyuruh ngerjain apa-apa sendiri, itu bukan karena ibu nggak suka sama aku, tapi aku tau, ibu pasti pingin aku jadi anak yang kuat dan mandiri.”
(*)
“Hari ini mas Unggul ulang tahun dan ibu ngasih dia kado mainan yang baguuuusss banget, semoga di hari ulang tahunku nanti, ibu juga ngasih kado yang sama bagusnya kayak punya mas Unggul”
(*)
“Hari ini aku ulang tahun,aku pingin banget ibu kasih aku kado seperti yang ibu kasih sama mas Unggul, tapi waktu ibu pulang, ibu nggak bawa apa-apa buat aku, aku nggak papa, mungkin saja ibu memang lagi nggak punya uang.”
(*)
“Akhirnya aku lulus SMP, aku udah tambah gede nih.. bangku SMA sudah di depan mata, sayangnya waktu wisuda tadi ibu nggak bisa datang katanya ibu lagi sakit, jadi yang datang malah Mang Kas sama Bik Mar, sedih sih…saat temen-temen bisa foto-foto sama papa mamanya aku justru bikin rekor foto sama supir ibuku.”
(*)
“Terkadang aku bingung, mas Unggul boleh panggil ibu, mama…kenapa aku nggak boleh ya? andai aku bisa panggil beliau mama biar sama-sama kayak mas Unggul”
Tak terasa banyak sudah air mataku yang tumpah saat membaca buku harian ini. Aku tidak pernah merasa seharu ini sebelumnya. Tiba-tiba saja sebuah bulpoint jatuh di bawah kakiku. Ada sebuah lembaran yang kelihatannya baru saja di tulisnya. Ku buka halaman itu.
“Besok usiaku menginjak 22 tahun, tak terasa aku semakin dewasa, aku bersyukur banyak sekali pencapaian yang berhasil aku raih, namun di sisi lain, aku juga harus menerima kenyataan bahwa hal yang selama ini aku tepis kenyataannya memang benar adanya, setelah ku baca kembali buku harian ini dari awal, akhirnya aku sadar…ibu, memang tak pernah menyayangiku selayaknya putra yang lahir dari rahimnya. Ibu membenciku, di matanya aku hanya anak haram dari pembunuh almarhum suaminya. Aku merasa sangat bersalah setiap kali melihat wajah ibu. Maka untuk menebus semuanya aku rela menukar apapun untuk kebahagiaannya, termasuk memberikan nyawaku untuk di tukar dengan nyawa keduanya. Semoga apa yang sudah aku korbankan bisa menebus kebahagiaannya yang pernah aku renggut dengan kehadiranku di dunia ini. Saat ini rasanya nafasku tinggal sisa-sisa terakhir. Aku tidak lagi kuat menunggu dan menyambutnya pulang seperti biasa karena tubuhku sudah mulai ringkih. Aku hanya bisa berharap aku masih bisa melewati malam ini agar aku bisa menjemput 22 tahunku dengan melihat senyumnya esok hari. Saat ini aku tak lagi menginginkan apapun darinya tuhan, boleh memanggilnya dengan panggilan mama..itu saja cukup mengantarkan aku tidur tenang…sungguh aku ingin memanggilnya mama….mama…”
            Spontan saja aku langsung menuju kamarnya begitu aku selesai membaca lembar terakhir buku hariannya itu. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa maksud tulisannya itu.
“Aji…Aji…bangun! Aji…”aku membangunkannya, namun dia tak kunjung bangun juga. Akupun membalik tubuhnya ke hadapanku.”Aji…”ku lihat darah mengalir di hidungnya, aku coba menyadarkannya namun dia tak kunjung bangun juga. Aku berteriak memanggil putra sulungku.
“Ada apa ma?Aji…Aji kenapa ma?Aji bangun Ji….Aji…”
“Ayo bawa dia ke Rumah Sakit, ayo Nak….!” Kamipun segera melarikannya ke Rumah Sakit. Aku berharap semuanya belum terlambat. Aku berharap tuhan memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku dan memperbaiki semuanya.
 “Maafkan saya mbak, saya sudah peringatkan Aji sebelumnya, kalau dia tetap nekat,sama saja dia bertukar posisi dengan mbak karena ginjal kanannya bermasalah,tapi dia tetap ngotot mendonorkan ginjal kirinya untuk menyelamatkan mbak.”jelas adikku yang selama ini jadi dokter pribadiku
“Lalu, sekarang?apa yang bisa kita lakukan”
 “Sudah terlambat, Mbak, kita terlambat,racun sudah menyebar di seluruh tubuhnya, dia sudah tidak bisa di selamatkan dengan jalan apapun, sebaiknya kalian temui dia, ikhlaskan dia pergi agar tidak semakin lama tersiksa.” Aku dan putrakupun masuk. Aku berbisik di telinganya, berharap alam bawa sadarnya berkenan membawa dia kembali sejenak.
“Aji..Aji…bangun sebentar saja, Nak…ayo panggil ibu mama, katanya kamu pingin panggil ibu, mama, ayo bangun, Nak..jangan bikin ibu menyesal karena nggak pernah penuhi permintaan kamu…ayo panggil ibu, mama…ayo Ji..”dia sama sekali tak meresponku”Aji..”
“Mama…”tiba-tiba ku dengar mulutnya lirih memanggilku dengan panggilan mama.
“Aji…maafin mama ya, Nak..”isakku
“Mama…mama…makasih…” detak jantungnyapun tak lagi terdeteksi. Dia  benar-benar pergi, tepat dini hari. Aku masih beruntung bisa memenuhi harapan terakhirnya, meski Cuma ini satu-satunya yang pernah aku berikan untuknya. Maafkan mama Ji….

Thursday, 23 April 2015

KOLEKSI CERPEN 2


KEPOMPONG GANG DOLLI
             Ku poles lagi wajahku.Ku rapikan rambutku yang ku urai panjang.Ku pertebal gincuku agar semakin terkesan sensual.Ku pilih busana yang bisa melukiskan lekuk tubuhku.Lihat lah aku,saat ini aku justru jadi primadona dengan tip yang fantastis.
             Ironis,padahal dulu aku berjanji akan segera berhenti begitu ku rasa  rupiahku cukup untuk membiayai tunggakan biaya kuliahku.Lalu kini?bukannya berhenti malah aku semakin menikmati pekerjaan yang nista ini.Entah apa yang mendasari pemikiranku ini,apa karena aku sudah terlanjur terjun dan harus berani berenang atau aku justru memang benar-benar sudah menjadikan ini lahan uangku.
             Dulunya aku memang menyambi dengan menjadi guru private untuk anak-anak,tapi seiring dengan kurs pendidikan yang semakin hari semakin tinggi,gajiku tak lagi bisa menutupinya,belum lagi kebutuhan lainnya,sementara ayahku yang jelas-jelas berada justru sama sekali tak punya simpati untukku.Hanya aku yang berjuang demi bisa memberikan ijazah S1 untuk ibuku yang sangat ingin aku menyandang gelar sarjana.
              Bekerja serabutan telah aku lakoni namun tetap saja nilainya jauh di bawa apa yang aku butuhkan,di tambah lagi pihak kampus yang tak ada sedikitpun toleransi untuk memberiku dispensasi.Hal inilah yang mendorongku untuk terjun ke surga malam ini begitu ada teman yang menawarkannya kepadaku.
                Gang Dolli,surga bordil yang tersohor namanya di segala pelosok dan aku jadi salah satu bidadari hitamnya.Di sinilah keperawananku ku gadaikan demi menebus selembar ijazah sarjana ekonomi.
“Greta..cepetan,nduk?di tunggu tamu istimewa.”panggil mbak Ros,membuyarkan renunganku.Segera ku rapikan lagi penampilanku sebelum keluar dari kamar riasku.”Di kamar 15.”tunjuk mbak Ros.Bagaimana tamuku malam ini?berapa tebal tip yang akan dia berikan untukku?itulah yang selalu terpikir alam benakku sesaat sebelum memulai pelayananku.
                 Ku buka kamar 15 itu perlahan.Tak tercium sedikitpun aroma sigarret dan Brandy yang acap kali jadi aroma khas kamar bordil ini ketika menunggu pelayanan siap di sajikan.Ku lihat seorang pria duduk membelakangiku di ranjang,Aku belum bisa menangkap wajahnya.
“Ekstra yo mbak.”ucapnya. Sesaat lagi diapun melempar seikat uang ke arahku.waw,..ini kali pertamaku menerima tip sefantastis ini”20 juta”ucapnya,kaya sekali orang ini
“Untuk berapa jam?”
“Layani dulu!”suruhnya.Ku belai bahunya sebagai pemanasan.Malam ini aku benar-benar jadi yang paling mahal,”20 juta untuk pelayanan free.”ucapnya,
“Free?”aku kaget mendengar ucapannya.Aku belum bisa mengambil resiko pelayanan free itu karena selama ini para tamu yang menginginkan pelayananku,selalu aku wajibkan untuk mengenakan pengaman seperti kondom dan sejenisnya.
“Nggak berani?”dia menyindir keprofesionalanku.Diapun berbalik,Pak kris?diakan dosen waliku.
“Pak Kris?”
“Greta,kepompong gang dolli dengan tip fantastis tapi ternyata sama sekali  tidak professional?”sindirnya padaku.Aku hanya terdiam tak merespon sedikitpun.Habiskah aku kali ini?.Bagaimana keputusan finalnya nanti saat tau mahasiswanya seorang PSK.Rasanya saat ini tubuhku tengah di belit surat DO.
“Bagaimana bapak tau,saya bekerja di tempat ini?”
“Tuhan yang mengatur segalanya,dia yang menunjukkan kejanggalan ini,supaya dapat segera saya hentikan.”kamipun saling diam,hingga sesaat kemudian“Huuuuuffft….”ku hela nafasku bersamaan dengan beliau.
“Nduk..nduk…kok pendek sekali pikiranmu.”ucapnya.
“Saya kepepet,Pak”ucapku.
“Bukan seperti ini caranya,Nduk?semua bisa di bicarakan baik-baik.”
“Sudah saya coba,Pak..tapi kenyataannya pihak kampus terlalu bersifat kekeluargaan,hanya orang-orang yang  masih berbau dosen,atau yang masih kerabat rector saja yang kiranya mudah di dengar,sementara orang-orang independen seperti saya ini?di gubrispun tidak?”
“Sudahlah,Nduk..berhentilah dari tempat ini,pulanglah bersama bapak,sebelum kamu benar-benar menjadi seekor kupu-kupu.”bujuk pak Kris.”Sebelum semua terlambat…”tatap mata teduhnyapun semakin menyudutkanku,
           Ku ambil jaket beliau.Ku balut kan pada tubuhku yang terbuka oleh pakaian yang serba minim ini.Sudah ku putuskan,malam ini aku resmi berhenti dari tempat ini.
“Mbak Ros..”sapaku pada mbak Ros,aku agak canggung”saya berhenti mulai malam ini.”beliau tersenyum,dia mengusap kepalaku.
“Semoga sukses,Nak…jangan lagi kamu terjerumus di tempat seperti ini,suatu saat sayapun akan berhenti”ucapnya sebagai pengantar perpisahan denganku.Aku beruntung punya bos seperti mbak Ros yang mengerti kondisi orang,padahal untuk yang lainnya belum pasti aku bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.Aku hanya bisa berdoa semoga tuhan bisa secepatnya member hidayah kepada mbak Ros,seperti aku sekarang.
              Ku hapus semua masa laluku yang kelam itu.Sejak malam itu hingga berakhir dengan bergantinya tahun baru ini,sudah mulai ku buka lembaran baru hidupku bersamaan dengan pendamping yang baru pula.Ada pak Kris yang saat ini resmi jadi suamiku.Aku rasa hanya beliau satu-satunya lelaki yang mau menerima mantan bidadari hitam sepertiku ini.
             Yang paling penting,akhirnya aku berhasil menepati janjiku pada ibu.Selembar ijazah S1 yang ku dapatkan dengan banyak pengorbanan.Ijazah tanpa satupun nilai D.Dengan ijazah itu akan ku tebus semua kesalahan lampauku itu.

Wednesday, 22 April 2015

KOLEKSI CERPEN


PESAN BISU UNTUK GURU BAHASA INDONESIAKU
Aku duduk menyepi seusai makan sahur pagi ini. Ku putar sebuah track favoritku New Eta , “dalam pekatnya”. Track itu selalu menjadi satu-satunya track yang selalu ku putar tiap kali ku gundah gulana karena terbesit tentangnya. Seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa laluku, bukan yang special tapi justru membekas dalam hatiku sangat dalam. Beberapa malam belakangan ini, entah mengapa dengan asyiknya dia menjamah setiap sin dalam mimpiku. Entah mengapa karena aku rindu padanya atau ada kesan- pesan yang belum tuntas terungkap.
Ku tatapi hamparan langit dini hari yang masih gelap. Bahkan purnama pun masih jelas menampakkan dirinya tanpa malu-malu, meski tanpa satupun bintang yang mengawalnya. Mungkin jika ia hidup maka akan ia ungkapkan betapa ia merasa kesepian, sama sepertiku yang tengah duduk sendiri di kaki langit ini. Dan di tengah aku sedang bercengkrama dengan rembulan itu, sepotong wajahnyapun terbayang samar-samar di inti jari-jarinya. Aku tau bukan rembulan yang membawa bayang-bayang itu muncul namun ilusiku sendiri yang tengah tersugesti oleh semua kenangan tentangnya.
Begitupun angin yang mendesir dingin di sekitar kepalaku. Masuk dengan sinisnya ke dalam telingaku membawa suaranya hingga terngiang-ngiang. Dialog dinginnya yang tak pernah hangat padaku dulunya. Dia begitu angkuh padaku, bahkan sampai hari ini. Mungkin jika dia sehangat yang lain, aku tak perlu penasaran kepadanya seperti ini, dan  membuatku tak berhenti berfikir hingga otakkupun  penuh dengannya dan pada akhirnya justru hatikulah yang menjadi pelariannya.
Dia memang pernah bilang, jika dia tak menyukai bocah perempuan, entah apa alasannya. Namun itulah sebabnya dia begitu acuh kepadaku. Apakah itu sebuah hal yang bisa dibenarkan, sementara mungkin saja nantinya dia justru dikarunia tuhan seorang bocah perempuan sebagai putrinya, akankah dia tetap acuh? Bahkan dalam ajaran hindu memiliki seorang putri merupakan anugrah besar yang diberikan oleh sang hyang widi, jagad dewa batara. Lalu benarkah bocah perempuan yang dia maksud itu sebenarnya diperuntukkan hanya bagiku? Hanya saja dia sungkan untuk jujur, maka diapun mempermainkan nalarku dalam bahasa yang begitu kontekstual.
Andai aku bisa menegurnya saat ini, namun aku masih berfikir dua kali untuk itu. Aku tak mungkin gegabah karena aku pasti tidak akan punya nyali untuk datang ke rumahnya esok lebaran jika saat ini juga ku buka semua uneg-unegku ini. Kearroganant itu adalah haknya, bagaimanapun dia bukan teman sepermainanku yang bisa dengan gampangnya ku panggil mas bro dan ku jatz seenak mulutku. Ada gape yang agung di antara kami meski dalam diri kami masih sama-sama mengalir darah muda. Yah, sebuah batas moral yang agung  yang mau tak mau memaksaku untuk menghormatinya layaknya ku hormati bapak dan ibuku. Karena dia…. Dialah guru bahasa indonesiaku  semasa SMA dulu.

Tuesday, 18 November 2014

DALAM SEBUAH ASA 2

Aku meringkuk diatas ranjangku. Imanku kembali menciut diguncang penalaran nakalku yang terus berkecamuk. Beradu opini dengan pemkiran positifku yang lemah karena tak pernah ku perkuat lewat semangat hidup.
          Ku pejamkan mataku. Ku rentangkan lenganku dan ku luruskan kedua kakiku. Pelan-pelan ku refresh otakku agar akalku memperoleh ruang gerak yang sedikit bebas. Aku tak ingin memikirkan apapun. Kubuang semua kejadian yang terlihat. Ku redam suara-suara bising bersahutan yang terekam. Ku tangkap sunyi, hanya ku dengar suara hati kecilku yang berpetuah. Inilah kebiasaan seorang introvert sepertiku ini.
          Dan hati kecilkupun berkata…..
“Tenanglah……tenanglah Re…..,
Hadapi saja…….tuhan hanya berniat untuk menjadikanmu dewasa,
Selama kamu tetap berjalan dalam jalurnya, maka semua ini hanyalah sebuah ujian yang harus kamu selesaikan, dan bukanlah sebuah hukuman.
Lihatlah…….
Tuhan bahkan bisa sangat baik bukan? Pada orang-orang yang mengabaikannya begitu saja?kenapa tidak pada orang-orang yang dengan setia menyembahnya?
Percayalah…
Dia pasti menunjukkan setiap jalan dengan caranya yang istimewa.
Tidak satupun manusia di dunia ini yang bebas dari cobaan dan ujian.
Layaknya sebuah permainan bukan? Kamu hanya perlu menyelesaikan setiap tugas dan tantangan agar bisa naik ke level berikutnya. Begitupun setiap level permainan itu, tentu semakin tinggi levelnya pasti tugas dan tantangan yang dihadapkanpun akan semakin rumit. Namun saat kamu berhasil menyelesaikannya hingga level terakhir, kamu pasti akan merasa puas.
Jangan menyerah hari ini Re….
Karena saat kamu menyerah hari ini, kamu tidak akan pernah menjemput hari esok, kamu tidak pernah tau berapa langkah lagi kamu akan sampai pada tujuanmu. Bisa saja saat kamu berhenti, justru tujuan itu sudah tinggal selangkah lagi.
Cobalah setulus mungkin….
Janganlah pernah kamu beribadah hanya untuk diberi pahala atau rezeki yang melimpah tapi, beribadahlah karena kamu menghendaki keridhoannya. Pemberian yang diberikan dengan ikhlas akan lebih berarti dibandingkan dengan pemberian yang diberikan karena terpaksa.
Maka bersyukurlah…
Atas setiap nikmat maupun cobaan yang diberikannya, karena saat itulah kamu kan merasakan betapa nikmatnya hidup menjadi orang yang ikhlas dan dengan hal itu, kamu tidak akan merasakan sebuah beban.
          Akupun kembali terjaga. Ku hela nafas besar, sambil ku tatap focus plafon kamarku. Haaaahh…yah, mungkin inilah yang namanya jatuh bangun. Aku hanya perlu belajar ikhlas, agar bisa selalu bangkit dari setiap kegagalan.
          Mungkin saat ini aku tengah terjatuh, namun semua belum berakhir. Tak seorangpun tau apa yang akan terjadi ke depan. Yang perlu aku ingat hanyalah, aku tidak boleh mengalir begitu saja, karena apapun yang mengalir selalu akan jatuh kebawah. Mungkin yang tepat bagiku saat ini adalah sebuah pepatah “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian.
          Terpikir sebuah teori Mahatma Gandi yang telah disampaikan oleh salah satu dosenku dalam mata kuliahnya tempo hari, “ berpikirlah positif, karena dengan berpikir positif maka ucapan kitapun akan menjadi positif, ucapan yang positif akan membawa perilku yang positif dan perilaku yang positif akan menjadi kebiasaan yang positif.” Yah, memang berpikir positif adalah obat yang paling mujarab yang ku butuhkan untuk mengobati gejala frustasiku saat ini.


Prastika Prabu Sasmitro “86”
4-10-2014

11.11 WIB

Monday, 17 November 2014

GERIMIS NOVEMBER

            Terik mentari akhirnya mulai membeku seiring dengan mendung yang menggantung di langit  tengah hari yang kian redup. Desir angin yang berhembus mesra, menggelayut menggandeng jemariku yang sudah beberapa tahun ini kesepian. Semilirnya menambah senyap hawa tanah merah yang memuai dalam persemayaman para penghuni pusara.
            Aku berjalan membawa seikat mawar segar dan sebotol air yang telah ku campur misik. Cuma aku sendiri yang terlihat berjalan di setapak pemakaman yang terasa semakin mistis  karena hadirnya kabut yang tiba-tiba timbul. Sebuah aktifitas yang selalu ku lakukan setiap November datang.
            Ku hentikan langkahku tempat disamping pusara yang ku tuju. Pusara yang sudah sedikit usang dan masih ditumbuhi rumput bekas kemarau yang menguning kering namun bertunas segar karena diguyur hujan pemula beberapa hari lalu. Sepertinya memang hanya aku yang menjama pusaranya. Ku letakkan mawar yang ku bawa diatas kepalanya kemudian kuguyurkan air siraman yang ku genggam botolnya. Semerbaknya membawaku pada harum tubuhnya ketika masih mendampingiku dulu.
            Akupun duduk menyebelahi pusaranya. Ku lepas kacamataku, pelupuk mataku mulai basah ketika sebesit bayangnya mencumbu memoriku tentangnya yang mulai lemah seiring dengan rentang waktu dan jarak yang kian melangkah jauh menelannya. Memisahkanku darinya yang semakin tenang dalam rengkuhan-Nya.
Terkadang aku sendiri berpikir, betapa berdosanya aku setiap kali datang ke pusaranya. Aku selalu bisa menyempatkan waktu untuk datang ke pusaranya, namun tak sekalipun ku injakkan kakiku di pusara ayah kandungku sendiri. Dan seperti itulah kenyataannya. Dia dan ayahku bagaikan sebuah garis yang saling bertolak belakang. Saat ayahku hanya memberikanku hitam, dia justru memberikan warna-warna hidup yang cerah, sehingga dapat ku lihat keindahan dalam kelam.
Dia adalah pria pertama yang pernah membuatku jatuh. Seseorang yang membuatku berarti ditengah-tengah kehancuranku. Kakak tempatku bernaung, yang selalu siap membagi bahunya setiap kaliku datang dalam rapuh. Hanya dia yang selalu menanamkan wejangan-wejangan yang selalu membuatku tenang setiap kali ku mulai menyerah dan lelah. Ikhlas, tulus dan neriman adalah tiga kunci pokok yang selalu dia ajarkan padaku, sehingga aku mulai menghapus prasangka-prasangka negatifku akan takdir.
Satu pesan terakhir yang sempat dia ucapkan sebelum tuhan merebutnya dariku. Satu pesan yang selalu ku ingat…
” Nduk…tuhan tidak pernah menentukan baik buruknya takdir seseorang, baik dan buruknya takdir yang kamu terima adalah tergantung pada bagaimana kamu menerimanya dan menempatkan dirimu di mata tuhan,  cobaan dan ujian yang dia berikan hanyalah sebuah konflik yang akan membuat alur ceritamu menarik, maka hadapi saja dan jangan sekalipun mengeluh, ingat Nduk,… hujan tetap akan jatuh selagi air laut tetap menguap.”
            Semua tau, ajine tresno jalaran soko kulino. Jarak dan waktu memang bagaikan dua sisi mata pisau, satu sisi dapat menyatukan dua insan, namun disisi lainnya juga yang akhirnya memisahkan mereka. Sadar tak sadar, sudah merupakan hukum alam bahwa cinta yang paling sejati hanyalah cinta tuhan pada hambanya dan hamba pada tuhannya. Sebesar apapun kita mencintai seseorang, tetap tuhan yang paling berhak memilikinya. Mungkin suatu hari aku bisa menghapusnya dari hatiku, namun tidak dari masa laluku.

Prastika prabu S “86”
12-11-013


DALAM SEBUAH ASA 1

Ku bawa secangkir kopiku keluar rumah dan duduk menyepi didepan buk depan terasku. Kompleks perumahanku sudah begitu sepi, cuma terlihat kucing-kucing peliharaanku yang sedang asyik kejar-kejaran dengan kucing tetanggaku yang dibiarkan tidur diluar kandang, begitupun tikus-tikus belang asyik bekerja menggali sampah di lahan kosong yang jadi tempat pembuangan sampah warga. Ku rogohi kempol celana pendekku untuk memungut handphoneku yang ada di dalamnya. Ku pilih sebuah track sendu yang asyik diputar dalam suasana hatiku yang gelisah ini, Ebiet G.A.D, “titip rindu buat ayah.”
            Apa lagi yang cocok disandingkan dengan secangkir kopi item selain sebatang rokok. Pas sekali, memang tinggal sebatang dibungkusnya. Aku belum sempat beli lagi, beras saja ku beli perkilo. Tak mungkin rasanya jika ku jajankan uangku untuk sebungkus rokok meskipun itu hanya sebungkus Djarum Super. Disaat-saat kritis seperti ini sayang rasanya membuang-buang uang untuk kepuasan pribadi. Akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk kepuasan bersama bukan?.  Ku sulut ujungnya hingga merah lalu ku hirup dalam-dalam dan ku buang sisa asapnya.
“Ayah………a….a..a….
Dalam hening se..pi ku rin..duuuu…
Untuuuu…kk…. Menuai padi milik kitaaaa…
Namunn kerinduan tinggal ha..nyaa… kerinduan..
Anakmu seekarang banyak me..nanggung beban…”
            Ku nyanyikan sepenggal reffrendnya, hanya dibagian itu saja yang ku suka dan begitu ingin ku teriakkan hingga dia yang telah tenang di alam barzah itu terusik. Haha.. tapi yang benar saja, itu Cuma sebuah hil yang mustahal.
Hmmm… lihat rumah baruku sekarang ini, sudah begitu hangatnya dari terpaan angin jalanan, temboknya rapat, atapnya dicor, jendelanya di jeruji dan gerbangnya tinggi. Hangat bukan? Namun justru aku masih merasa dingin, bahkan sebagian sudut dari batinkupun mulai membeku. Ini rumah, anak kecilpun mengatakan demikian, ya memang ini rumah. Tapi, yakinkan aku, inikah yang bisa ku sebut sebagai rumah? Rumah seperti inikah yang aku inginkan?
Bukannya aku tak bersyukur mamaku menghadiahkan rumah ini sebagai milikku, tapi bukan rumah seperti ini yang ku inginkan. Rumah dimana aku masih merasa kedinginan, rumah dimana aku masih merasa kesepian. Tapi aku sadar, sekeras apapun aku menginginkannya, aku tetap tidak akan pernah memilikinya. Inilah sebuah asa yang harus ku kubur dalam-dalam karena tidak akan pernah bisa ku realisasikan. Mamaku tidak pernah mau memberikan rumah yang seperti itu untukku.
Rumah itu adalah ayah. Ayah yang selalu ku idam-idamkan. Ayah yang teman-temanku miliki. Ayah yang bisa menjadi pondasi yang kokoh dari kerapuhan dan keputusasaan.  Ayah yang bisa menjadi peneduh dari hujan dan kemarau hidup. Ayah yang bisa menjadi dinding yang melindungi dari binatang-binatang jalang. Ayah yang tangguh, yang selalu menjaga kehormatan putrinya. Membalutkan sutra disekujur tubuh putrinya. Memakaikan mutiara sebagai hiasan rambut putrinya dan memasangkan emas sebagai perhiasan putrinya.
Sayang, ayahku bukan ayah yang seperti itu. Meskipun dia hidup, dia tidak akan pernah menjadi rumahku, namun dia justru bisa menjadi rumah bagi anak-anaknya dari ibu-ibu lain. Sementara aku? Batinku lumpuh tertimpa puing-puing rumahnya yang hancur dan ia tinggalkan sejak perpisahan itu. Perpisahan yang sampai saat ini menjadi sepenggal kalimat yang abadi terukir dalam setiap lembar diary depresiku.
Namun lihatlah aku, sudah ku bersihkan puing-puing itu. Ku bangun rumahku sendiri. Menjadi suami bagi mamaku dan menjadi ayah bagi jiwaku sendiri yang rapuh. Ku tempa diriku, mencoba sekuat baja meski kenyataannya bajapun tetap bisa meleleh pada suhu tertentu. Apa boleh buat, kita tidak bisa meminta tuhan kepada, dari, dan untuk siapa kita diciptakan. Inilah hidup, cukuplah menjadi anak yang patuh dan ikuti saja proses pertumbuhan dan perkembangan kita, sekalipun kadang sebuah buah dipaksa ranum sebelum waktunya, sekalipun buah itu mengeluh tak memungkiri bahwa ia pasti akan ranum dan membusuk pada akhirnya.
Dan dalam sisa seteguk kopiku yang mulai dingin ditiup angin 12 malam, terlintas sebuah inspirasi yang membuatku menciptakan sebuah puisi yang ku ketik di konsep pesan telpon selularku.
SEBUAH ASAKU UNTUK AYAH
Andai bisa ku duduk,
Di pangkuhanmu…
Saat ayah anak-anak lain
Berandai-andai tentang anak-anaknya…
Memimpikan mereka berhasil dalam hidupnya,
                                    Andai bisa ku merajuk,
                                    Dalam rengkuhanmu….
                                    Saat anak ayah-ayah lain,
                                    Meludahiku…
Berbuat nakal kepadaku,
Membuatku basah karena air mataku
Andai bisa ku peras keringatmu,
Dari kemeja-kemeja kerjamu
Dan pori-pori kulitmu,
Akan ku buat memasak sepiring nasi
Dan ku minum seteguk…
                                    Namun aku hanya berandai-andai
                                    Berkhayal manja tentangmu…
                                    Nyatanya, aku hanya duduk menyepi….
                                    Bermimpi tentang keberhasilanku sendiri,
                                    Merajuk sendiri dalam sunyi..
                                    Dan ku peras keringatku sendiri
                                    Untuk melepas haus…. Untuk memuaskan lapar…
Sementara kau….
                                    Kau hanya sebatas asa
                                    Ayah…..

“Prastika prabu 86” dalam semilir angin malam menuju pagi….

19 Oktober 2014, 00:05

Sunday, 16 November 2014

DALAM SEBUAH ASA

Malam telah mencapai puncaknya, tak satupun suara manusia terbawa angin terdengar di telingaku. Pekat  malam dan dingin romannya rupanya tengah membekukan mata dan menyelimuti tubuh mereka. Sepertinya hanya  aku satu-satunya manusia yang terjaga sendiri di malam yang senyap ini, dirumah baruku yang hening, namun tenang dari mulut burung-burung neraka itu.
Ku buka jendela kamarku. Semilir angin langsung membelai halus wajahku, begitupun pendar rembulan yang cantik mencumbuku. Ku panjat jendelaku itu dan duduk di kusennya. Hmmm…bunyi nafas besarku. Malam ini seperti malam sebelumnya, aku belum pernah bisa tidur tenang seperti yang lainnya.
Ku sulut ujung batang wismilakku, satu-satunya teman setiaku setiap malam meski sedikit matrealistis. Ku hirupnya dalam-dalam, ku rasakan nikmatnya, baru ku buang asapnya bersamaan dengan nafas besar. Dadaku sangat sesak, bukan karena asap rokok, namun karena sebuah beban yang serasa mengendap di batinku hingga penuh.
Entahlah mengapa ada banyak hal yang terpikirkan selalu dalam benakku ini. Entah itu bagaimana aku makan esok hari, bagaimana aku bayar tagihan listrik bulan ini  dan bagaimana aku bayar uang kuliah semester ini. Sementara itu melihat teman-teman sebayaku yang lain, sepertinya terlihat sangat ringan menikmati masa-masa remaja mereka, sedangkan aku justru berpikir layaknya seusia orang tua mereka. Aku bahkan tak sempat memikirkan kebahagiaanku sendiri.
Kadang aku berpikir aku tidak lebih beruntung dibandingkan mereka, namun akupun sadar masih ada yang jauh kurang beruntung dibandingkan denganku, hal inilah yang selalu membuatku memupus sendiri prasangka burukku tentang hidup. Yang ku sadari, hidup ini tak memberikan kita pilihan melainkan kesempatan untuk kita menentukan dengan cara seperti apa kita menikmatinya. Menikmati, yah menikmati adalah sebuah diksi yang lebih ku pilih dibandingkan menjalani. Bukan apa-apa, aku hanya ingin menanamkan sebuah sugesti yang dapat membangun efek lebih santai dibandingkan jika ku gunakan kata menjalani yang terkesan lebih menunjukkan bahwa hidup ini adalah sebuah beban.
Begitupunku  selalu menikmati siklus hidup yang ku alami, termasuk pula saat ini, saat dimana aku benar-benar jatuh. Kehilangan mata pencaharian, difitnah orang, hampir putus kuliah, diremehkan mantan camer sampai penyakit kronis yang tiba-tiba menyerang, semua datang bersamaan menyerbu kesabaranku yang hanya  beberapa  byte ini. Berat, aku bohong jika ku bilang aku tak terbebani, namun aku selalu berusaha menikmatinya karena aku berusaha untuk tidak mengeluh. Saat ini aku Cuma ingin menjalaninya pelan-pelan dan menyelesaikannya satu persatu dengan tetap memegang teguh keyakinanku pada tuhan meski sering kali aku nambeng dan dengan sadar melakukan larangannya. Mengutip puisi karya Chairil Anwar yang sangat ku idolakan.
Doa..
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh
cahayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku…
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku..
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku..
Di pintumu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling..
Seperti isi puisi itulah ku parafrasekan kehidupanku. Aku memang bukan orang yang khusuk seperti mereka yang rajin sholat, rajin puasa, maupun sedekah. Aku bukan wanita yang pandai menjaga aurat namun aku jamin aku pandai menjaga harkat dan martabat. Aku bukan orang yang baik, dan aku memang tak ingin menjadi orang yang baik, namun aku jamin aku bukan orang yang munafik. Intinya, walaupun aku ndablek, aku tetap punya keyakinan bahwa Dia menciptakanku tidak untuk Dia tinggalkan dan senakal apapun aku, aku tidak akan pernah mengingkari keberadaannya.
          Ku pandangi batang rokokku yang hampir habis. Apa sebenarnya yang aku cari? aku bahkan tak dapat memprediksi apa yang akan terjadi esok, akankah langit tetap biru atau justru berubah menjadi hitam. Setidaknya aku yakin, segelap apapun mendung dan selebat apapun hujan, setelahnya pasti ada pelangi. Apa yang terjadi hari ini biarkan terjadi hari ini, apa yang akan terjadi esok aku cukup hadapi, dan apa yang akan terjadi nanti aku cukup bersiap, aku cukup berjalan, meski tertatih asal aku tak berhenti.

Prastika Prabu S. “86”