Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Monday, 5 October 2015

MEMAKNAI MOTIVASI NEGATIF



What do you think when you reads this quote? Pertanyaan itulah yang ingin saya kemukakan pada anda sekalian. Kata-kata itu mungkin merupakan salah satu bentuk motivasi negatif yang mengemukakan bahwa saat seseorang meremehkan kemampuan anda, hal itu merupakan tekanan terbesar bagi anda. Benarkah demikian?
Begitu saya membaca kata-kata motivasi tersebut, saya langsung tetarik untuk memaknainya secara oposisi. Saya memilih untuk memaknainya sebagai motivasi positif. Janganlah menganggap serangkaian kata-kata yang menganggap remeh kemampuan anda sebagai tekanan melainkan sebagai dorongan bagi anda untuk naik ke atas. Saat anda menganggapnya sebagai tekanan maka anda akan merasa kecil, kecil dan semakin kecil diantara lainnya. Namun saat anda menganggapnya sebagai dorongan anda akan merasa lebih besar dan lebih terpacu untuk mengaktualisasikan diri anda diantara yang lain.


So, keep fight and make every people who say you can not do, smile and feel they are nothing than you…..


fb: @prastikaprabusasmitro

HISTORY OF DREAMCATCHER


Legend of the Dreamcatcher


Long ago, when the world was young, an old Lakota spiritual leader was on a high mountain. On the mountain, he had a vision. In his vision, Iktomi - the great trickster and teacher of wisdom - appeared in the form of a spider.
Iktomi spoke to him in a sacred language. Only spiritual leaders of the Lakota could understand. As Iktomi spoke, he took the elder's willow hoop - which had feathers, horse hair, beads and offerings on it - and began to spin a web.
He spoke to the elder about the cycles of life and how we begin our lives as infants. We then move on to childhood and in to adulthood. Finally, we go to old age where we must be taken care of as infants, thus, completing the cycle.
"But," Iktomi said as he continued to spin his web, "in each time of life there are many forces - some good and some bad. If you listen to the good forces, they will steer you in the right direction. But, if you listen to the bad forces, they will hurt you and steer you in the wrong direction."
He continued, "There are many forces and different directions that can help or interfere with the harmony of nature and also with the Great Spirit and all of his wonderful teachings."
All while the spider spoke, he continued to weave his web ... starting from the outside and working toward the center. When Iktomi finished speaking, he gave the Lakota elder the web and said, "See, the web is a perfect circle, but there is a hole in the center of the circle."
"Use the web to help yourself and your people ... to reach your goals and make use of your people's ideas, dreams and visions. If you believe in the Great Spirit, the web will catch your good ideas, and the bad ones will go through the hole." (Note: Some bands believe the bad ideas are caught in the web and the good ideas pass through to the individual. Either account is acceptable.)
The Lakota elder passed his vision on to his people. Now, the Sioux use the dreamcatchers as the web of their life. Traditionally, it is hung above their beds or in their homes to sift their dreams and visions. Good dreams are captured in the web of life and carried with them ... but the evil dreams escape through the center's hole and are no longer part of them. (Note: Some bands believe the bad ideas are caught in the web and the good ideas pass through to the individual. Either account is acceptable.)
Lakota believe the dreamcatcher holds the destiny of their future.


- See more at: http://aktalakota.stjo.org/site/News2?page=NewsArticle&id=8820#sthash.fMmBzFOa.dpuf

Saturday, 3 October 2015

SDM KREATIF


MEMBANGUN PONDASI SDM KREATIF YANG CERDAS DAN BESWASEMBADA MELALUI SEKTOR PANGAN
Oleh: Wahyu Retno Larasati
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik

GAMBARAN UMUM PERMASALAHAN KEPENDUDUKAN
Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana pada tahun 2012 telah memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa. peningkatan jumlah penduduk Indonesia tersebut dibarengi pula dengan meningkatnya penduduk berusia produktif (usia 15 tahun sampai 65 tahun). Menurut Armida, Indonesia telah memasuki bonus demografi. Dengan demikian, penduduk Indonesia berusia produktif lebih banyak daripada penduduk yang tak produktif.
Pada tahun 2010, proporsi penduduk usia produktif adalah sebesar 66,5 persen. Proporsi ini terus meningkat mencapai 68,1 persen pada tahun 2028 sampai tahun 2031. Meningkatnya jumlah penduduk usia produktif menyebabkan menurunnya angka ketergantungan, yaitu jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh 100 orang penduduk usia produktif dari 50,5 persen pada tahun 2010 menjadi 46,9 persen pada periode 2028-2031.
Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Namun, berkah ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya. Secara awam masalah yang paling dikhawatirkan adalah ketersediaan lapangan pekerjaan yang mencukupi untuk menampung tenaga kerja di masa mendatang. Sebenarnya, hal ini tidak perlu dipandang sebagai masalah yang berarti. Dengan kondisi perekonomian yang saat ini memasuki jaringan integrasi ASEAN melalui MEA, bukan waktunya lagi untuk berbicara di area lokal, interlokal maupun nasional. Keterbukaan lapangan kerja semakin luas karena sudah mencakup wilayah pasar tenaga kerja internasional. Masalah yang sebenarnya justru terjadi, ketika keberadaan lapangan kerja tidak disambut dengan kualitas penduduk. Akibatnya, sumber daya manusia yang melimpah ini akan terseleksi percuma oleh persaingan di dunia kerja dan pasar internasional.
Bercermin dari fakta yang terjadi, indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI) Indonesia masih rendah. Dari 182 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 111. Sementara dikawasan ASEAN, HDI Indonesia berada di urutan enam dari 10 negara ASEAN. Posisi ini masih di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura. Hal ini membuktikan  tidak kompetitifnya tenaga kerja  Indonesia di dunia kerja baik di dalam ataupun luar negeri. Lihat saja bagaimana posisi pekerja Indonesia di luar negeri, sebagian besar hanya menjadi pembantu rumah tangga dengan berbagai kasus diskriminatif dari tuannya, dimana tidak sedikit dari mereka yang disiksa dan direndahkan. Sementara di dalam negeri sekali pun, pekerja indonesia masih kalah dengan pekerja asing. Hal ini ditandai dari banyaknya peluang kerja dan posisi strategis yang malah ditempati tenaga kerja asing. Benar-benar sebuah ironi, bagaikan ayam yang mati di lumbung padi, bukan?

GAGASAN YANG DITAWARKAN
Pada intinya, solusi yang harus dirumuskan adalah berkenaan dengan bagaimana cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, baik secara intelektual, praktikal dan moral. Solusi yang sering kali ditawarkan adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Tidak sedikit dana yang telah dikucurkan, namun hasilnya lulusan yang diproduksi justru masih kurang berkompeten dan kurang kompetitif saat diluncurkan ke dunia kerja. Meskipun, memang  tidak sedikit tenaga kerja profesional yang diciptakan melalui kontribusi pendidikan. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya pendidikan memang merupakan strategi yang efektif namun tidak efisien. Mengapa tidak efisien? Karena ini sama halnya dengan membangun bangunan baru  diatas bangunan lama yang sudah rapuh. Seharusnya, perkuat dulu pondasinya, maka bangunan yang dibangun diatasnyapun akan kokoh.
Pondasi yang penulis maksud disini adalah sektor dasar yang seringkali dijadikan indikator kelayakan taraf hidup masyarakat yaitu ketahanan pangan. Perhatian harusnya lebih difokuskan pada sektor ini, karena jika sektor pangan masyarakat semakin layak, maka sektor kesehatan dan pendidikanpun akan terangkat secara otomatis. Kesalahan yang belum juga berakhir adalah pangan kita yang masih impor. Beras, daging, susu, sayur-mayur bahkan buah-buahan semua masih kita impor (www.metrotvnews.com: 10 Desember 2014). Padahal semua itu merupakan hal pokok yang harus terpenuhi agar penduduk berada dalam kondisi hidup yang layak

IMPLIKASI SEKTOR PANGAN TERHADAP KEBERHASILAN PENDIDIKAN
Dalam prakteknya, keberhasilan sektor pendidikan tidak hanya ditentukan dengan kerapian rancangan program-program yang direncanakan, ketepatan kurikulum yang disusun serta berbagai tehnologi yang menfasilitasinya. Selain dari itu semua, keberhasilan sektor pendidikan nyatanya juga dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan peserta didik. Selain merupakan faktor bawaan yang seringkali disebut sebagai potensi atau fitrah, kecerdasan manusia juga dipengaruhi oleh konsumsinya. Dari segi inilah sektor pangan berpengaruh terhadap kualitas manusia. Maka untuk meningkatkan kualitasnya, selain kuantitas pangan yang harus terpenuhi bagi seluruh masyarakat, kualitas panganpun harus menjadi prioritas yang perlu diperhatikan. Kualitas pangan yang dimaksud disini, berkenaan dengan kandungan gizi dan nutrisi yang terkandung didalamnya.
Menteri Kesehatan RI, yang diwakili oleh Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menerangkan bahwa gizi merupakan pondasi yang sangat penting dan memiliki peran besar dalam bebagai aspek yang pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap pembangunan suatu bangsa, diantaranya: 1) Investasi gizi pada remaja perempuan dapat meningkatkan statusnya kelak saat menjadi ibu dan bermanfaat bagi keluarga kecilnya sebagai cikal bakal pencetakan sumber daya manusia; 2) Perhatian khusus pada gizi berdampak langsung pada keuntungan di bidang pertanian dengan peningkatan produksi untuk penyediaan kebutuhan pangan bagi masyarakat, dan menjaga keseimbangan lingkungan dengan mempertahankan makan berbasis pangan lokal; 3) Perbaikan gizi merupakan langkah awal dalam pengembangan SDM dan penurunan kemiskinan; 4) Gizi yang cukup dapat memperbaiki kondisi pasca konflik; 5) program perbaikan gizi merupakan sebuah proses partisipasi yang mengedepankan HAM; dan 6) Gizi yang cukup meningkatkan imunitas dan berperan pada pencegahan penyakit tidak menular (PTM).( www.depkes.go.id: 17 April 2015)
Gizi yang baik diperoleh dengan memperbanyak konsumsi daging, susu, telur dan ikan. Daging merupakan pangan yang sangat baik sebagai sumber protein. Secara umum, komposisi protein dalam daging adalah sebesar 19% (16-22%). Mengkonsumsi 100 gram daging dapat memenuhi kebutuhan gizi orang dewasa setiap hari, yaitu sekitar 10% kebutuhan kalori, 50% protein, 35% zat besi (Fe), dan 25-60% vitamin B kompleks. Daging juga merupakan sumber mineral seperti magnesium, copper, cobalt,phosphor, chronium, nikel dan selenium yang sangat bermafaat bagi tubuh.
Adapun susu sangat penting bagi tubuh karena mengandung dua komponen penting di dalamnya yaitu protein dan mineral. Protein dalam susu mengandung 11 asam amino esensial yang sering kali tidak ditemukan dalam makanan asal padi-padian (cereal grains). Mengkonsumsi 1,1 liter susu segar per hari untuk anak-anak sampai umur 6 tahun akan mencukupi seluruh kebutuhan protein dalam sehari. Sedangkan untuk anak umur 6-14 tahun mencukupi sebesar 60%, dan orang dewasa 44%. Susu juga dapat mensuplai sekitar 725 mg kebutuhan kalsium manusia. Susu dan hasil olahannya  merupakan sumber vitamin A, D, E, K, B1, B6, B12, phosphor, dan magnesium. Keistimewaan lainnya adalah lemak susu yang berfungsi sebagai lemak fisiologis dan kandungan laktosa yang dapat digunakan tubuh untuk perkembangan sel otak.
Sama halnya dengan daging dan susu, telur dan ikan juga penting bagi tubuh manusia. Lima manfaat terbaik dari mengkonsumsi telur, yaitu sebagai asupan nutrisi yang penting karena kaya akan vitamin, mencegah penyebaran bakteri E.coli, mencegah kadar kolesterol dalam darah, baik untuk kesehatan mata karena kandungan lutein dan zeaxanthin, serta tentu saja sebagai sumber protein tinggi. Sementara itu dalam ikan banyak tekandung protein dan mineral yang hampur sama dengan kandungan yang ada di dalam daging. Sehingga, saat harga daging melonjak, ikan dapat dijadikan makanan alternatif substitusi daging yang dapat digunakan sebagai sumber protein hewani.
Sayang faktanya, tingkat konsumsi daging, susu, telur dan ikan di Indonesia masih tergolong rendah. Untuk daging saja, Director Equity Research Credit Suisse Ella Nusantoro menuturkan, dalam survei yang dilakukannya terhadap 1.600 orang di Indonesia, konsumsi daging baik sapi, kambing, domba maupun ayam mengalami penurunan dari sebelumnya 6,1% pada 2013, menjadi 5,3% pada 2014. Rendahnya konsumsi daging justru berbanding terbalik dengan konsumsi mie instan di Indonesia. Padahal dengan mengonsumsi mie instan secara kontinyu akan berdampak pada menurunnya kesehatan, namun fakta menunjukkan konsumsinya justru meningkat. Dilihat dari brand Indomie yang masih mendominasi pasar, konsumsinya meningkat dari sebelumnya 38% pada 2013, menjadi 40% pada 2014. Konsumsi mie Indomie ini banyak berasal dari kalangan urban, yang mencapai 42%. Sementara untuk kalangan menengah ke bawah sebesar 36%.
Dalam survei tersebut juga disebutkan bahwa konsumsi daging paling tinggi berasal dari Rusia yang mencapai 20,7% per tahun, Saudi Arabia 17,2% per tahun, Brazil 14,8% per tahun, China 14,7% per tahun, Turki 14,2% per tahun, Meksiko 14% per tahun, Afrika Selatan 13,9% per tahun, India 7,8% per tahun, dan Indonesia 5,3% per tahun. Sementara untuk tingkat konsumsi susu, Indonesia mengkonsumsi 12 liter, sedangkan Malaysia 37 liter dan New Zealand 105 liter. Sementara itu, data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pada tahun 2014 konsumsi ikan nasional hanya mencapai 38 kilogram (kg) per kapita per tahun. Sementara itu, Malaysia sudah mencapai 70 kg per kapita per tahun dan Jepang 140 kg per kapita per tahun. Di tahun 2019, pemerintah menargetkan konsumsi ikan nasional per kapita per tahun bisa mencapai 50 kg. (www.jitunews.com:29 April 2014)
Viktor Siagiandalam tulisannya yang berjudul Peningkatan Protein Hewani untuk Ketahanan Pangan, terbitan Balai Penelitian Teknologi Pangan Sumatera Selatan, tahun 2008, memaparkan bahwa rendahnya tingkat konsumsi  susu, daging, dan telur dan ikan di Indonesia sama artinya dengan relatif rendahnya tingkat konsumsi protein hewani, yaitu 4,7 gram/orang/hari, jauh dari target 6 gram/orang/hari. Padahal di Malaysia, Thailand, dan Filipina, rata-rata 10 gram/orang/hari. Di  negara-negara maju seperti Amerika  Serikat, Prancis,  Jepang, Kanada, dan Inggris,tingkat konsumsi protein hewani adalah 50-80 gram/kapita/hari. Di negara-negara berkembang lainnya, seperti, Korea, Brasil, dan Tiongkok 20-40 gram/kapita/hari. Rendahnya tingkat konsumsi masyarakat akan susu, daging, dan telur sebagai sumber protein hewani yang utama, bisa jadi merupakan salah satu penyebab kurang optimalnya performa, kreativitas, kecerdasan, mobilitas, kinerja, dan etos kerja bangsa ini. Karenanya, susu, daging, dan telur harus lebih dikenalkan kepada masyarakat. Sejatinya, sumber pangan hewani sangat berperan dalam menopang kesehatan, kecerdasan, dan pembangunan sumberdaya manusia.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dari semua paparan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dalam menciptakan pondasi sumber daya manusia yang cerdas dan produktif, penting sekali untuk memprioritaskan ketahanan pangan khususnya pada sektor ketersediaannya dan gizi yang dikandungnya. Kita sebagai sumber daya manusia yang bijak harus dapat memilih dan memilah makanan yang harus dikonsumsi agar bermanfaat baik secara fisik maupun psikologis. Kita harus sedapat mungkin menghindari konsumsi makanan yang bersifat junk food, karena selain berdampak buruk bagi kesehatan secara fisik juga mengurangi tingkat kecerdasan dari segi  psikologis, terutama jika dikonsumsi oleh anak-anak. Kita harus memperbanyak konsumsi protein hewani karena sejatinya, sumber pangan dengan protein hewani sangat berperan dalam menopang kesehatan, kecerdasan, dan pembangunan sumber daya manusia.

Intinya, saat ketersediaan pangan dan kebutuhan gizi terpenuhi, maka untuk mengelolah sumber daya manusia melalui pendidikan, bukan lagi menjadi hal yang sulit. Pendidikanpun akan menjadi upaya yang efektif dan efisien dalam menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas, produktif dan berswasembada. Sumber daya manusia seperti inilah yang dibutuhkan dalam dunia kerja, agar dapat bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain. Sehingga dengan bonus demografi yang indonesia miliki di masa mendatang, tidak akan menjadi beban perekonomian melain menjadi agen pembangun perekonomian bangsa, agent of economic development.


REFERENSI:

www.depkes.go.id:17 April 2015 tentang Peran Gizi Dalam Menciptakan SDM Berkualitas
www.infobanknews.com:10 April 2015 tentang Tingkat Konsumsi Daging Di Indonesia
www.jitunews.com: 29 April 2014 tentang Rendahnya Tingkat Konsumsi Daging dan Susu Masyarakat Indonesia.
www.kontan.co.id: 26 Maret 2015 tentang Tingkat Konsumsi Ikan Masyarakat Masih Rendah
www.metrotvnews.com: 10 Desember 2014 tentang Ketahanan Pangan Indonesia Menjelang MEA 2015

Friday, 2 October 2015

ABOUT PARENTING


Jangan Membentak Anak, Karena Milyaran Sel Otak Anak Akan Rusak

“Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.”
Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.
Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya.
Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anaknya,” Tidak hanya itu, juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati, jantung dan lainnya.
Teriakan dan Bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir semua orang mengetahui itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah, bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru.
Emosi negatif seperti marah mempunyai gelombang khusus yang merupakan gelombang yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini dapat bergabung dengan gelombang suara orang yang berteriak. Nah, gabungan gelombang suara dan gelombang emosi marah ini menghasilkan gelombang ketiga dengan efek yang khusus.
Efek dari gelombang ketiga ini adalah sifat destruktifnya terhadap sel-sel otak orang yang dituju. Dalam satu kali bentakan saja, sejumlah sel-sel otak orang yang dijadikan target akan mengalami kerusakan saat dia terkena gelombang ini, baik bila dia mendengar suaranya atau pun tidak. Hal ini karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana dia gelombang suara tapi langsung ditangkap oleh otak sebagaimana gelombang otak.
Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak yang dijadikan sasaran bentakan ini. Pada remaja dan orang dewasa mengalami kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan.
Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun serta termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka biasanya seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya.
Oleh karena itu, sebagai orang tua, pendidik, ataupun orang yang lebih tua dari ‘mereka’, sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik. Seringkali orang tua  bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.
Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.
Mari yuk selalu memberi pujian tulus dan pelukan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang.

Thursday, 1 October 2015

SERUNYA MANCING


Mancing yang menginspirasi !



Tak sedikit orang yang menganggap jika kegiatan mancing merupakan pekerjaan yang tidak bermanfaat. Mereka bilang pergi memancing hanya membuang-buang waktu. Waktu hanya terbuang sia-sia saat menunggu ikan datang menyambar umpan yang ditawarkan. Apalagi jika pada akhirnya kita kembali dengan membawa sedikit tangkapan atau bahkan dengan tangan hampa, tentu rasa kecewa tak terelakkan
Meskipun demikian, hal itu tidak berlaku bagi sebagian orang, termasuk saya. Lihat saja sekarang, semakin banyak channel TV yang menayangkan acara mancing.  Mancing ikan merupakan hobi yang menyenangkan. Ada keseruan dan sensasi tersendiri yang akan kita dapatkan. Apalagi saat umpan yang kita tawarkan disambar oleh ikan dan tali senar kita bergoyang. Itu benar-benar asyik.
Bagi saya, memancing bukan hanya kegiatan yang menyenangkan tapi juga menginspirasi. Mancing ikan dapat menjadi obat mujarab untuk menyingkirkan kejenuhan dan kepenatan saya dari tugas-tugas kuliah yang menumpuk, rutinitas pekerjaan yang padat dan masalah-masalah pribadi yang mengganggu pikiran. Dengan pergi mancing, saya dapat membebaskan dan merefresh pikiran saya dari kejenuhan.
Bagi orang yang mempunyai hobi menulis, pergi mancing bisa menjadi kegiatan yang bisa mendatangkan inspirasi. Apalagi jika lokasi mancing dekat dengan aliran air yang gemericik atau lokasinya hening, pasti anda bisa menikmati suara-suara alam dari kicauan burung yang bersahutan dan desiran angin yang berhembus halus. Obyek-obyek seperti itulah yang biasanya saya jadikan sumber inspirasi bagi tulisan-tulisan saya. Jadi, meskipun pulang tanpa membawa hasil tangkapan, setidaknya saya selalu pulang dengan membawa inspirasi. So, bagi anda yang sedang mencari inspirasi, kegiatan mancing ikan ini bisa jadi alternatif lho... eits... tapi ingat ya... mancingnya ikan, bukan mancing masalah lho ya........hehe
Love what you do and do your love..................

gmail: prastikaprabu@gmail.com
fb: prastika prabu sasmitro

Wednesday, 30 September 2015

WHAT HAPPINESS IS IT?



Saya sedang suntuk sore itu dan hampir menghabiskan waktu sore saya hanya berkeliling dijalanan dengan motor.  Ada yang meganggu perasaan saya. What happiness is it? Pertanyaan itu terasa seperti nyamuk betina yang terus berteriak di telinga saya. Pertanyaan yang belum pernah bisa saya jawab selama ini.  Akhirnya saya putuskan untuk mencari tau hal itu dari orang lain. Intinya saya sedang bercermin pada orang lain.
What is your opinion about happy? Apa yang kamu pikirkan tentang bahagia? Pertanyaan itu yang semalam saya tanyakan pada orang – orang di sekitar saya. Saya ingin tau apa yang mereka pikirkan tentang bahagia. Diskusi ringan mengenai pendapat mereka tentang bahagia.
Dan dari beberapa pertanyaan yang saya share melalui pesan pendek saya, beberapa balasan pun masuk memberikan gambaran mengenai makna bahagia oleh mereka. Dari beberapa jawaban itu diantaranya:
Bahagia itu bebas. Bebas berbuat apapun yang kita mau.... tanpa harus peduli dengan pikiran orang lain.
Bahagia itu melakukan kegemaran. Bisa mengaplikasikan hobbi yang kita sukai adalah bahagia
Bahagia itu saat kita tersenyum
Bahagia itu disayangi orang-orang yang kita sayangi
Bahagia itu kehormatan, dipandang dan diperhatikan orang lain
Bahagia itu bisa menjunjung orang-orang disekitar kita
Bahagia itu materi. Punya uang banyak, harta berlimpah dan segalanya mudah.
Bahagia itu simpel, cukup berpikir yang ringan saja dan kamu akan selalu merasa bahagia
Dari kesekian jawaban hanya ada satu yang akhirnya menggerakkan pikiran saya dan membuat saya kembali bergairah. Jawaban tak terduga dari seorang teman yang bahkan tidak pernah terlihat bahagia, tidak pernah tersenyum dan tanpa ekpresi. Dia bilang bahagia itu ada di dalam diri kita. Bahagia itu dalam diri kita... dalam diri kita....
Bahagia itu ada dalam diri kita sendiri. Kita sendiri yang bisa menciptakan bahagia. Kita tidak perlu mencari dari orang lain, kita tidak perlu menemukannya dimanapun. Di benar, bahagia dan tidak bahagia tergantung dalam pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita tidak perlu meniru orang lain untuk bahagia dan kita tidak bisa mengukur kebahagiaan kita dengan kebahagiaan orang lain. Kembali lagi ke awal, saat saya bilang saya ingin bercermin pada orang lain, kenyataannya, saya tetap akan melihat diri saya kembali, bukan orang itu.
and the end, you can't find you happiness anywhere because you just need make it from your self